Sebuah Cerita Evolusi Dari Indonesia

Rizko Hadi, S.Si. Rabu, 2018-05-30 377 View

Baru-baru ini sejumlah laman internasional-The New York Times, National Geographic, dan The Conversationdiantaranya-mengangkat laporan mengenai suku Bajau dari Indonesia [1, 2, 3]. Dalam laporan mereka, yang berasal dari penelitian yang diterbitkan pada jurnal Cell [4], disebutkan bahwa suku Bajau mengalami evolusi (perubahan sifat dari nenek moyang) berupa penyesuaian tubuh untuk menyelam.

Sebagai sesama penduduk Indonesia kita wajib merasa penasaran akan hal ini.

Sekilas Tentang Suku Bajau

Suku ini termasuk di antara sekian banyak suku yang mendiami Indonesia. Pemukiman mereka dapat dijumpai di perairan Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Raja Ampat [5].

Meskipun demikian, gaya hidup suku Bajau yang utama berada di lautan. Hidup di atas rumah perahu, berpindah dari satu laut ke laut yang lain, dan menyelam untuk mencari sumber penghidupan mereka.

Suku Bajau merupakan penyelam yang handal. Mereka mampu turun menyelam hingga kedalaman 30 meter tanpa peralatan yang canggih [6].

Mereka bahkan menghabiskan 60% dari kehidupan kerja sehari-hari di bawah air [7]. Kemampuan selam suku ini berada di atas rata-rata manusia umumnya.

Meneliti Suku Bajau

Kemampuan unik Suku Bajau dalam menyelam ini menarik perhatian Melissa A. Ilardo dari University of Copenhagen, Denmark. Ia dan rekan-rekannya kemudian mengunjungi suku Bajau, mengambil data yang dibutuhkan, dan menganalisisnya.

Ia ingin mengetahui, secara biologis, bagaimana bisa keunikan tadi dimiliki oleh suku Bajau.

Penelitian Ilardo menemukan bahwa suku Bajau memiliki ukuran limpa yang lebih besar dibandingkan suku Saluan, suku yang menempati daerah geografis yang sama namun mencari penghidupan dengan cara bertani [4]. Ukuran limpa yang lebih besar memungkinkan waktu penyelaman yang lebih lama. Dari sinilah keahlian menyelam suku Bajau berasal.

Namun Ilardo tidak puas hanya sampai di situ. Ukuran limpa suku Bajau yang lebih besar dibandingkan suku Saluan bisa jadi merupakan akibat dari perbedaan pencaharian mereka: Bajau penyelam, Saluan petani; Bajau lebih banyak berada di bawah air sedangkan Saluan sebaliknya. Ilardo mengacu pada penelitian lain yang pernah dilakukan pada suku Moken di Thailand, suku lain yang juga menggantungkan kehidupannya dari penyelaman di laut. Anak-anak suku ini memiliki lapangan pandang (visi) yang luas di bawah permukaan air [9], tetapi kemampuan ini ternyata merupakan hasil proses menyelam yang terus-menerus dilakukan [10]. Anak-anak Moken punya kemampuan penglihatan bawah air yang unik karena sering berada di bawah air. Mungkinkah besar ukuran limpa suku Bajau juga terbentuk melalui proses yang sama, ragu Ilardo.

Untuk memastikan hal ini, Ilardo dan tim kemudian membandingkan ukuran limpa kelompok individu Bajau yang sehari-harinya dihabiskan dengan menyelam dan kelompok individu Bajau yang telah meninggalkan pencaharian menyelam. Hasilnya ternyata tidak menunjukkan perbedaan ukuran limpa di antara kedua kelompok ini: kelompok individu Bajau yang telah meninggalkan pencaharian menyelam juga memiliki ukuran limpa yang besar. Artinya, ukuran limpa suku Bajau yang besar ini tidak sekedar disebabkan oleh kehidupan di bawah laut [4].

Jika demikian, apa penyebabnya? “Sementara faktor lingkungan lain yang tidak diketahui dapat berpotensi menjelaskan perbedaan yang teramati di antara kedua grup- suku Bajau dan Saluan-, faktor genetik tetap memberikan kemungkinan,” ungkap Ilardo pada tulisannya di jurnal Cell. Maka, ia dan tim menelisik lebih dalam pada susunan gen (unsur pewarisan sifat dari tetua ke anakan) kedua suku [4].Ilardo kemudian menemukan bahwa suku Bajau memiliki keunikan pada gen PDE10A, keunikan yang tidak ditemukan pada suku Saluan. Gen PDE10A ini, menurut analisis yang ia lakukan, berkaitan dengan ukuran limpa suku Bajau. Lebih jauh, Ilardo mencari tau cara kerja gen PDE10A ini dalam memperbesar limpa suku Bajau. Dari penelusurannya, ia menduga gen PDE10A bekerja dengan meningkatkan jumlah hormon tiroid. Hormon tiroid merupakan senyawa kimia yang diproduksi untuk meningkatkan kerja tubuh. “Hingga saat ini belum ada laporan tentang kaitan antara jumlah hormon tiroid dan ukuran limpa pada manusia,” ungkap Ilardo pada laporannya. “Walau begitu, jumlah hormon tiroid sangat berkaitan dengan ukuran limpa pada tikus,” tulisnya lagi [4]. Semakin tinggi jumlah hormon tiroid, semakin besar ukuran limpa.

Jadi secara keseluruhan skenario yang terjadi pada suku Bajau sebagai berikut : gen PDE10A mengalami mutasi (perubahan) pada suku Bajau; mutasi ini menyebabkan peningkatan jumlah hormon tiroid yang diproduksi oleh tubuh mereka; karena jumlah hormon tiroid yang diproduksi tinggi, ukuran limpa suku Bajau pun menjadi besar.

Limpa dan Kemampuan Menyelam

Dalam sebuah penelitian di tahun 1999 [11], yang dilakukan terhadap anjing laut, mamalia (hewan menyusui) yang mencari makan dengan menyelam di laut, ukuran limpa memang ditemukan memiliki hubungan positif dengan waktu penyelaman. Semakin besar ukuran limpa, semakin lama pula waktu penyelaman. Pada manusia, seperti halnya mamalia lain yang juga menyelam, kontraksi limpa juga termasuk salah satu respon tubuh terhadap kondisi menyelam. Kontraksi limpa menyediakan sel darah merah beroksigen ke dalam sistem peredaran tubuh [12, 13]. Dengan ketersediaan oksigen yang cukup, penyelaman dapat dilakukan dalam waktu yang lebih lama.

Dengan kata lain, semakin besar ukuran limpa, semakin banyak persediaan oksigen yang dapat diberikan ke peredaran tubuh; semakin lama pula waktu penyelaman yang dapat dilakukan. Seperti inilah yang terjadi pada suku Bajau.

Mutasi Gen, Seleksi Alam, dan Perubahan Suku Bajau

Ukuran limpa suku Bajau yang besar tidak sekedar disebabkan oleh kehidupan yang bergantung dengan penyelaman. Seperti yang telah diceritakan, Ilardo dan timnya menemukan mutasi gen PDE10A pada suku Bajau, yang pada akhirnya mempengaruhi ukuran limpa mereka. Karena mutasi ini, seluruh individu suku Bajau memiliki limpa yang berukuran besar. Tidak hanya pada penyelam suku Bajau tapi juga pada individu bukan penyelamnya.

Bagaimana prosesnya hingga mutasi ini membentuk sebuah ciri yang umum ditemukan pada anggota suku Bajau?Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita membicarakan hal yang lebih mendasar : apa dan bagaimana itu mutasi gen?

Sebagaimana yang telah diceritakan, mutasi gen merupakan perubahan pada gen, unsur pewarisan sifat dari tetua ke anakan. Oleh karena itu, mutasi gen pada satu individu menyebabkan sifat tertentu dari individu tersebut berubah. Pada kasus suku Bajau, gen PDE10A lah yang mengalami mutasi. Karena mutasi gen ini, sifat tertentu mereka-yaitu ukuran limpa- berubah.

Sebenarnya mutasi gen pada satu individu dapat bersifat menguntungkan, merugikan ataupun tidak keduanya. Yang perlu diingat adalah bahwa mutasi terjadi secara random. Artinya mutasi tidak hadir untuk memenuhi kebutuhan satu individu dalam upayanya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Apakah mutasi terjadi atau tidak, tidak ada kaitannya dengan keuntungan mutasi tersebut [15]. Mutasi gen PDE10A, yang pada akhirnya menguntungkan suku Bajau, bukan hadir untuk membantu mereka bertahan dalam kehidupan yang bergantung pada laut. Sederhananya, mutasi tersebut sekedar muncul pada individu suku Bajau.

Mutasi gen ini juga sebenarnya bisa jadi diwariskan kepada keturunan, bisa pula tidak. Apa yang menentukan sebuah mutasi gen diwariskan atau tidak kepada keturunannya? Pada titik ini ada konsep dasar lain yang harus kita bicarakan : seleksi alam.

Tulisan lengkap bisa ada baca di sini : https://warstek.com/2018/05/23/evolusi/

Related Post